Perkembangan keamanan di Kota Hasakah kembali menjadi sorotan setelah pasukan pemerintah Suriah dilaporkan memperluas kendali di sejumlah titik strategis di pedesaan timur laut. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai berapa lama Damaskus mampu sepenuhnya menguasai Hasakah dari kelompok SDF yang masih menunjukkan tanda-tanda pembangkangan terhadap kesepakatan damai.
Dalam beberapa hari terakhir, laporan lapangan menyebutkan bahwa tentara Suriah telah mencapai dan menguasai fasilitas vital, termasuk silo Tel Alou di pedesaan Al-Yaarubiyah. Pergerakan ini menandai kemajuan bertahap pemerintah di wilayah yang selama bertahun-tahun berada di bawah pengaruh SDF dan unsur PKK.
Selain itu, pasukan pemerintah juga dilaporkan menguasai markas Fawj Al-Qal’a dan Fawj Hamdan. Sejumlah milisi yang disebut berasal dari Qandil dikabarkan melarikan diri setelah mendapat tekanan dari serangan gabungan tentara dan kelompok suku lokal.
Keterlibatan suku-suku Arab di pedesaan Hasakah menjadi faktor baru yang memengaruhi peta konflik. Dukungan mereka terhadap pasukan pemerintah dinilai mempercepat runtuhnya beberapa pos SDF tanpa pertempuran besar.
Di sisi lain, situasi di dalam Kota Hasakah sendiri masih jauh dari stabil. Sebelumnya, sebagian wilayah kota telah dimasuki pasukan suku yang berafiliasi dengan Damaskus, namun tidak lama kemudian sejumlah distrik kembali dikuasai SDF dan elemen PKK yang datang dari Qamishli.
Pergerakan bala bantuan SDF dari wilayah lain turut mengubah keseimbangan. Mundurnya hampir seluruh pasukan SDF dari Tabqa, Deir Ezzour, dan Raqqa membuat Hasakah menjadi titik konsentrasi utama kekuatan mereka di timur laut Suriah.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa Hasakah dapat berubah menjadi medan konflik berkepanjangan. Sejumlah analis mulai membandingkannya dengan Aleppo pada awal perang, ketika kota itu terbelah dan stagnan selama bertahun-tahun.
Namun ada perbedaan mendasar dalam konteks Hasakah saat ini. Pemerintah Suriah tidak memulai operasi dari posisi lemah, melainkan dengan dukungan suku lokal dan tekanan politik pasca kesepakatan damai yang telah diumumkan sebelumnya.
Faktor ini membuat sebagian pengamat memperkirakan proses penguasaan Hasakah tidak akan memakan waktu selama Aleppo. Jika momentum ini berlanjut, fase penentuan diperkirakan berlangsung dalam hitungan bulan, bukan tahun.
Dalam skenario optimistis, pasukan pemerintah dapat menguasai sebagian besar Hasakah dalam waktu tiga hingga enam bulan. Hal ini bergantung pada konsistensi dukungan suku serta keberhasilan memecah barisan SDF melalui negosiasi dan pembelotan.
Laporan mengenai pembebasan pos pemeriksaan Krifati di pedesaan Al-Yaarubiyah, menyusul pembelotan total personel SDF di lokasi tersebut, memperkuat asumsi bahwa retakan internal di tubuh SDF mulai melebar.
Jika fenomena pembelotan ini meluas, penguasaan Hasakah bisa dipercepat tanpa pertempuran kota berskala besar. Damaskus berpotensi menghindari skenario kehancuran infrastruktur seperti yang terjadi di Aleppo.
Namun skenario pesimistis tetap terbuka. Konsentrasi pasukan SDF dan PKK di pusat kota dapat menciptakan kantong-kantong perlawanan yang sulit ditembus, terutama di kawasan padat penduduk.
Dalam kondisi ini, Hasakah berisiko mengalami stagnasi keamanan selama satu hingga dua tahun, dengan garis depan yang berubah-ubah dan konflik intensitas rendah namun berkepanjangan.
Keputusan pemerintah Suriah untuk mengombinasikan tekanan militer dengan pendekatan politik akan menjadi faktor penentu. Negosiasi lokal dengan tokoh masyarakat Hasakah dinilai sama pentingnya dengan kemajuan di medan tempur.
Selain itu, sikap aktor eksternal juga akan memengaruhi durasi konflik. Selama SDF masih merasa memiliki ruang manuver politik dan logistik, mereka cenderung mempertahankan Hasakah sebagai benteng terakhir.
Meski demikian, dinamika terbaru menunjukkan bahwa posisi SDF tidak lagi sekuat sebelumnya. Kehilangan wilayah luas dan berkumpulnya pasukan di satu kota justru dapat menjadi kelemahan strategis.
Bagi Damaskus, Hasakah memiliki nilai simbolik dan strategis yang tinggi. Penguasaan kota ini akan menandai berakhirnya salah satu bab terakhir konflik bersenjata besar di timur laut Suriah.
Jika pemerintah mampu mengelola fase transisi dengan cepat, Hasakah berpeluang menjadi contoh reintegrasi wilayah pascakonflik, bukan Aleppo baru yang terjebak kebuntuan panjang.
Dengan berbagai faktor tersebut, banyak pihak menilai enam hingga dua belas bulan ke depan akan menjadi periode krusial. Dalam rentang waktu inilah arah masa depan Hasakah kemungkinan besar akan ditentukan.
Apakah Hasakah menjadi simbol penyatuan kembali Suriah atau justru medan stagnasi baru, jawabannya kini bergantung pada keseimbangan antara tekanan militer, manuver politik, dan respons masyarakat lokal di kota tersebut.
Blogger Comment
Facebook Comment